Sabtu, 08 Desember 2012

MASJID KUBAH EMAS

Minggu, 7 Oktober 2012. Bingung mau ngapain... Biasa, keluhan kaum urban ibukota yang kantongnya sedang pas-pasan. Hehehe... Mau jalan-jalan ke Mall, nggak asik kalau sekedar jalan-jalan tanpa ada tujuan untuk membeli sesuatu. Mau wisata kuliner, bingung juga mau makan apa, karena beberapa hari sebelumnya kantong sudah mulai menipis gara-gara kepingin nyicipin lagi menu spesial di Sizzler.

Nyalain TV, acaranya gitu-gitu aja. Buka laptop, mulai browsing sekalian nanya-nanya pendapat ke Eyang Google, enaknya ngapain untuk mengisi liburan di hari minggu yang cukup panas ini...?

Keyword pertama, wisata kuliner. Ah, kenapa ngetik kuliner lagi neh... Perut udah buncit, trus tadi juga barusan makan di Nila Bakar Pak Ugi di sekitaran Kelapa Gading, masa mau makan lagi...??? Hapus...!
Ketik keyword berikutnya, wisata lendir... ASTAGHFIRULLAHALADZIIIIMMM...!!! Hapus...!!!Mainin jari beberapa saat, diketuk-ketukin ke meja, lalu timbul ide di kepala buat ngetikin keyword selanjutnya, WISATA RELIGI...!!! Nah, ini baru mantap neh..! Jalan-jalan sekalian bisa mempertebal keimanan. Amiiinnn...

Tak lama browsing, ketemu juga sesuatu yang sering kali terdengar di telinga, tapi belum pernah melihat langsung dengan mata kepala, Masjid Kubah Emas. Sepertinya menarik juga nih masjid. Lumayan juga kalau bisa ber-itiqaf disana.

Tak perlu menunggu lama, berangkat juga deh kesana dengan berbekal Avanza yang tersisa. Ini adalah pertama kalinya saya mengunjungi masjid tersebut. Dengan ditemani Google Maps, akhirnya meluncur lah kesana melewati Kota Depok. Jalanan yang panas dan macet -Jakarta sekitarnya mana sih yang nggak macet- tak menjadi penghalang untuk melanjutkan perjalanan kesana. Hmmm... seandainya tahu kalau arah kesana itu dapat ditempuh dengan cepat lewat daerah Fatmawati, pasti lah perjalannya tidak akan selama ini.

Akhirnya rasa lelah pun terbayar begitu sampai di tempat tujuan. Masjid kubah emas, Depok... Benar-benar tak terbayangkan bahwa di negara kita memiliki masjid dengan arsitektur khas Timur Tengah.



Untuk detail sejarah dan pembangunan masjid ini, saya kutip lengkap dari Wikipedia sepenuhnya seperti yang saya uraikan dibawah ini :


Masjid Dian Al-Mahri

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Sejarah
Masjid ini dibangun oleh Hj. Dian Djuriah Maimun Al Rasyid, pengusaha asal Banten, yang telah membeli tanah ini sejak tahun 1996. Masjid ini mulai dibangun sejak tahun 2001 dan selesai sekitar akhir tahun 2006. Masjid ini dibuka untuk umum pada tanggal 31 Desember 2006, bertepatan dengan Idul Adha yang kedua kalinya pada tahun itu. Dengan luas kawasan 50 hektar, bangunan masjid ini menempati luas area sebesar 60 x 120 meter atau sekitar 8000 meter persegi. Masjid ini sendiri dapat menampung sekitar kurang lebih 20.000 jemaah. Kawasan masjid ini sering disebut sebagai kawasan masjid termegah di Asia Tenggara.

[sunting]
Arsitektur

Masjid Dian Al Mahri memiliki 5 kubah. Satu kubah utama dan 4 kubah kecil. Uniknya, seluruh kubah dilapisi emas setebal 2 sampai 3 milimeter dan mozaik kristal. Bentuk kubah utama menyerupai kubah Taj Mahal. Kubah tersebut memiliki diameter bawah 16 meter, diameter tengah 20 meter, dan tinggi 25 meter. Sementara 4 kubah kecil memiliki diameter bawah 6 meter, tengah 7 meter, dan tinggi 8 meter. Selain itu di dalam masjid ini terdapat lampu gantung yang didatangkan langsung dari Italia seberat 8 ton.
Selain itu, relief hiasan di atas tempat imam juga terbuat dari emas 18 karat. Begitu juga pagar di lantai dua dan hiasan kaligrafi di langit-langit masjid. Sedangkan mahkota pilar masjid yang berjumlah 168 buah berlapis bahan prado atau sisa emas.
Secara umum, arsitektur masjid mengikuti tipologi arsitektur masjid di Timur Tengah dengan ciri kubah, minaret (menara), halaman dalam (plaza), dan penggunaan detail atau hiasan dekoratif dengan elemen geometris dan obelisk, untuk memperkuat ciri keislaman para arsitekturnya. Ciri lainnya adalah gerbang masuk berupa portal dan hiasan geometris serta obelisk sebagai ornamen.
Halaman dalam berukuran 45 x 57 meter dan mampu menampung 8.000 jemaah. Enam menara (minaret) berbentuk segi enam atau heksagonal, yang melambangkan rukun iman, menjulang setinggi 40 meter. Keenam menara itu dibalut batu granit abu-abu yang diimpor dari Italia dengan ornamen melingkar. Pada puncaknya terdapat kubah berlapis mozaik emas 24 karat. Sedangkan kubahnya mengacu pada bentuk kubah yang banyak digunakan masjid-masjid di Persia dan India. Lima kubah melambangkan rukun Islam, seluruhnya dibalut mozaik berlapis emas 24 karat yang materialnya diimpor dari Italia.
Pada bagian interiornya, masjid ini menghadirkan pilar-pilar kokoh yang menjulang tinggi guna menciptakan skala ruang yang agung. Ruang masjid didominasi warna monokrom dengan unsur utama warna krem, untuk memberi karakter ruang yang tenang dan hangat. Materialnya terbuat dari bahan marmer yang diimpor dari Turki dan Italia. Di tengah ruang, tergantung lampu yang terbuat dari kuningan berlapis emas seberat 2,7 ton, yang pengerjaannya digarap ahli dari Italia.

Berikut adalah foto-foto lain yang berhasil saya capture di sekitaran Masjid Kubah Emas, Dian Al-Mahri, Depok.

Foto Panorama Masjid Kubah Emas captured by Art-de-Co Photograph
Photo by : Art-de-Co Photograph

Photo by : Art-de-Co Photograph

Detail Ornamen Tempat Wudhu | Photo by : Art-de-Co Photograph
     

0 komentar:

Posting Komentar