Kamis, 13 Desember 2012

Belajar IKHLAS dari MUTHIA


Cerita ini sudah lama dan pernah saya muat di blog saya yang lainnya. Bahkan, barangkali Anda pernah membaca ini di lain tempat. Saya hanya sekedar mengingatkan saja. Seringkali kita lupa bahwa dari anak kecil pun, kita bisa belajar tentang hal-hal besar.

Ini adalah cerita tentang MUTHIA, seorang gadis kecil yang ceria berusia Lima 
tahun.


Pada suatu sore, MUTHIA menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket. 
Ketika sedang menunggu giliran membayar, MUTHIA melihat sebentuk kalung mutiara mungil berwarna putih berkilauan, tergantung dalam sebuah kotak berwarna pink yang sangat cantik.
Kalung itu nampak begitu indah, sehingga MUTHIA sangat ingin memilikinya. Tapi... Dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji tidak akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli.

Dan tadi Ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki berenda yang cantik. Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya.
"Ibu, bolehkah MUTHIA memiliki kalung ini ? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi... " Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan MUTHIA. Dibaliknya tertera harga Rp 15,000. Dilihatnya mata MUTHIA yang memandangnya dengan penuh harap dan cemas.

Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun ia tak mau bersikap tidak konsisten.
"Oke ... MUTHIA, kamu boleh memiliki kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih tadi. Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Ibu akan potong uang
tabunganmu untuk minggu depan. Setuju ?"
MUTHIA mengangguk lega, dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke raknya.
"Terimakasih..., Ibu"

MUTHIA sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya, kalung itu membuatnya nampak cantik dan dewasa. Dia merasa secantik Ibunya. Kalung itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur. Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang. Sebab, kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau.

Setiap malam sebelum tidur, ayah MUTHIA membacakan cerita pengantar tidur. Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, Ayah bertanya
"MUTHIA..., MUTHIA sayang ngga sama Ayah ?"
"Tentu dong... Ayah pasti tahu kalau MUTHIA sayang Ayah!"
"Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu..."
"Yah..., jangan dong Ayah ! Ayah boleh ambil "si Ratu" boneka kuda dari nenek...! Itu kesayanganku juga"
"Ya sudahlah sayang,... ngga apa-apa !" Ayah mencium pipi MUTHIA sebelum keluar dari kamar MUTHIA.
Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, Ayah bertanya lagi,
"MUTHIA..., MUTHIA sayang nggak sih, sama Ayah?"
"Ayah, Ayah tahu bukan kalau MUTHIA sayang sekali pada Ayah?".
"Kalau begitu, berikan pada Ayah kalung mutiaramu."
"Jangan Ayah... tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini..." kata MUTHIA seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain.

Beberapa malam kemudian, ketika Ayah masuk kekamarnya, MUTHIA sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ketika didekati, MUTHIA rupanya sedang menangis diam-diam. Kedua tangannya tergenggam di atas pangkuan.
"Ada apa MUTHIA, kenapa MUTHIA ?"
Tanpa berucap sepatah pun, MUTHIA membuka tangan-nya. Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya.
"Kalau Ayah mau...ambillah kalung MUTHIA."

Ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil MUTHIA. Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana.
Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih...sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi MUTHIA.
"MUTHIA... ini untuk MUTHIA. Sama bukan ? Memang begitu nampaknya, tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau."
Ya, ternyata Ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi MUTHIA.

Demikian pula halnya dengan Allah, terkadang Dia meminta sesuatu dari kita, karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik.
Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif dari MUTHIA :
Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga, dan oleh karenanya tidak ikhlas bila harus kehilangan. Untuk itulah perlunya sikap ikhlas, karena kita yakin tidak akan Allah mengambil sesuatu dari kita jika tidak akan menggantinya dengan yang lebih baik.

(we-ha : dari berbagai sumber)

0 komentar:

Posting Komentar