Tampilkan postingan dengan label Sweet Moment. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sweet Moment. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Desember 2012

READY TO FIGHT...!!!

Dia bukan Garuda, bukan Elang, bukan pula Nuri
Dia hanya seekor merpati
Yang katanya tak pernah ingkar janji.

Dia hanya seekor dara
Yang katanya selalu setia

Tapi terpikirkah bagaimana jadinya
Jika marabahaya mengusiknya..?

Aku yakin bahwasannya dia
Tak akan tinggal diam begitu saja
Dia tak akan hanya berdiam diri
Sembari menanti situasi aman terkendali

Aku yakin bahwasannya dia
Dia pun memiliki keberanian ekstra
Untuk mempertahankan dirinya
Ditengah gempuran dunia
Dibawah teriknya surya
Yang tak lagi bersahabat dengannya.

Ya... Ready to FIGHT...!!!
(we-ha)

Senioritas...?!? No..Way...!!!


Hasil karya fotografi memang tidak bisa dimaknai secara tepat. Karena sebenarnya caption yang ada justru terkadang mengurangi nilai dan kedalaman makna foto tersebut.

Seperti foto yang ada di samping ini, Anda bebas saja mengartikan apa yang tertuang dalam foto tersebut. Sedangkan saya pribadi, mengartikannya dengan "Tidak Adanya Senioritas dalam sebuah Club Fotografi"

Masih segar terekam pada ingatan saya ketika foto ini saya capture. Saat itu sedang terjadi pertemuan perdana dan hunting bersama antara COMPAG (Komunitas Fotografi Kota Nganjuk) dengan SPYCO yang merupakan satu-satunya komunitas fotografi yang beranggotakan rekan-rekan yang masih mengenyam pendidikan SMP maupun SMA di Kota Nganjuk.

Saya tidak melihat adanya SENIORITAS didalamnya. Semua berbaur, bersatu, belajar sama-sama, diskusi bareng, suasana justru terasa begitu hangat. Tidak ada yang merasa jago, tidak ada yang merasa hebat, dan karena itu pula lah, tidak ada yang merasa digurui. Yaaa... Saya senang sekali berada di tengah-tengah mereka yang membuat saya merasakan kehadiran teman-teman baru. Hmm... bukan sekedar teman atau sahabat, tapi lebih tepatnya KELUARGA yang baru.

Baiklah... Mari kita terus berkarya untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dari waktu ke waktu, dari masa ke masa.  SEMANGAAAATTT...!!! (we-ha)

Rabu, 20 April 2011

Mesin Pemecah Batu

Bebatuan gunung memang terkenal besar dan kuat. Bisa jadi kita tidak pernah tahu bahwa hadirnya batu-batu yang dipakai sebagai campuran bahan bangunan itu tidak terlepas dari cucuran keringat orang-orang seperti yang ada di samping ini.

Ditengah maraknya mesin-mesin pemecah batu otomatis, ternyata masih ada juga orang yang menghabiskan waktunya sebagai ‘mesin pemecah batu tradisional’. Sebuah pekerjaan yang sangat membutuhkan stamina dan daya tahan tubuh yang ekstra. Pekerjaan yang seringkali mengabaikan keselamatan si pekerja sendiri.  Tak jarang, ketika salah perhitungan dalam mengayunkan ‘hammer’ nya, alat tersebut meleset hingga menciderai kakinya. Jika sudah demikian, sang bapak harus beristirahat di rumah untuk menyembuhkan cideranya yang kadang hanya sekedar bengkak, namun tak jarang juga retak.

Hmmm… Beruntunglah kita yang masih diberi kemudahan untuk mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik.
(art-de-co - Nov 2010)

SAYA BUKAN ISTRI TERORIS

Teroris, istilah ini semakin populer ya. Sebenarnya apa sih teroris itu…? Dalam kamus besar bahasa Indonesia, teroris artinya orang yang menyebarkan teror. Bukan begitu…?
Namun belakangan ini, makna teroris semakin menyempit. Istilah TERORIS seringkali disandingkan kepada masyarakat MUSLIM MINORITAS yang melakukan aksi-aksi teror dan pengeboman. CMIIW.

Jadi, kata teroris itu makin lekat dan mengarah pada orang-orang Islam, padahal tidak semua orang Islam seperti itu, dan tidak semua TERORIS berasal dari kalangan muslim, betul nggak…? Nah, parahnya lagi, semakin gencarnya berita negatif di banyak media di negeri kita yang berlomba-lomba untuk memperoleh rating, apalagi kalau ada berita tentang peledakan BOM, waduh… girangnya minta ampun tuh pasti. Dampaknya, perempuan-perempuan bercadar itu pun seringkali mendapat cap sebagai ISTRI TERORIS karena memang kebetulan istri-istri para pelaku pengeboman itu bercadar juga.

Huuufffhhh… Beberapa saat setelah saya mengambil foto ini dari Masjid UGM Yogyakarta, saya terdiam lalu bergumam
“Ibu, adek… mudah-mudahan masyarakat di negeri kita ini semakin dewasa dalam menilai sesuatu. Mudah-mudahan mereka tidak mudah termakan issue-issue di media yang semakin gencar memberitakan tentang terorisme. Sehingga orang-orang tak bersalah seperti Anda pun kena getahnya.”
“Ukhti… Semoga saja orang-orang di luar sana bisa lebih bijak, tidak sembarangan menilai bahwa kalian yang mengenakan pakaian yang hampir berseragam dan sedang berkumpul dalam acara-acara kajian guna mendalami  ajaran dan tuntunan Islam itu adalah gerombolan ISTRI TERORIS.”
Saya yakin, Anda sekalian bukan lah istri teroris.

TOWER

BTS atau lebih dikenal dengan tower seluler, keberadaannya makin mudah kita jumpai di negeri kita ini. Mulai di tengah-tengah kota, di desa, hingga ke pelosok-pelosok di seluruh penjuru negeri ini tak lepas dari pembangunan tower-tower ini. Ya… Jika keberadaannya tidak ditertibkan, bukan tidak mungkin jika negeri kita ini akan menjadi negeri sejuta tower. Hehehehe…

Tapi tahukah Anda, jika pembangunan tower-tower ini penuh dengan kecurangan..?!? Ah, sudah menjadi rahasia umum jika negeri kita ini tak akan pernah bisa lepas dari urusan kecurangan-kecurangan seperti itu. Yang dulu teriak-teriak anti korupsi, ketika ada kesempatan, ya jadi koruptor juga. Lembaga-lembaga yang seringkali menolak pembangunan ini-itu, jika jatahnya sudah PAS ya lama-lama akan diam juga. Sudahlah, saya juga tidak munafik. Saya pun pernah jadi KORUPTOR juga kok. Makanya saya tahu sekali ladang-ladang basah yang bisa menjadi tempat mangkal para KORUPTOR.

Ssssstttt… Jika dalam pembangunan satu tower saja, seseorang yang menempati posisi basah tersebut bisa ‘ngembat’ duit puluhan juta rupiah… Kebayang nggak berapa banyak duit yang sudah berhasil masuk kantong pribadi jika kita mengalikannya dengan banyaknya tower yang kita temui dalam perjalanan Jakarta-Surabaya? Ahhhh… Tidaaaakkkk…!!!  Bisa kali ya buat bangun gedung DPR yang baru tuh!

Oh God… Sekarang saya jadi berpikir, jika satu tower seperti itu saja, ada ruang untuk mengKORUP dana puluhan juta rupiah. Bagaimana dengan rencana pembangunan gedung DPR yang menelan dana sekitar 1 trillyun itu ya…?!?!?

Udah ah, saya nggak berani ikut-ikutan ngomong. Daripada tambah salah dan kelihatan bego nya. Hahahaha…!!!

Bertahan

Foto ini saya ambil di sekitaran kampus UGM pada tahun 2010. Kalau ada yang belum tahu, kampusnya UGM tuh di Yogyakarta.  Eh, di Malang juga ada, ding. UGM = Universitas Gajayana Malang (hehehe… kriuk…kriuk…)

TETAP BERTAHAN DI ERA MODERNITAS, itulah sentilan yang saya dapatkan sesaat setelah mendapatkan foto ini.  Ya, benar-benar mencerminkan ciri khas Kota Yogyakarta yang tetap mempertahankan nilai tradisi budaya Jawa di tengah gencarnya penetrasi budaya-budaya modern ke negeri kita.

Bukan hanya itu, foto ini mengingatkan pula pada bapak saya, ketika masih setia dengan motor YAMAHA L2Super  yang dia bawa kemana-mana. Meski saya yakin, kalau untuk beli sepeda motor baru saja bapak pasti bisa, tapi barangkali apa yang dipikirkan oleh pemilik mobil itu sama dengan apa yang bapak saya pikirkan.
“Jika kelak kamu menjadi seorang pengusaha, kamu harus benar-benar bisa memilih dan memilah antara KEINGINAN dan KEBUTUHAN.”

Pemilik mobil sedan itu pasti punya KEINGINAN untuk memliki mobil seperti yang di parkir di sampingnya. Hanya saja kearifan telah membuatnya memutuskan kalau KEBUTUHAN akan mobil baru bisa ditunda, karena mobil yang sudah ada masih bisa difungsikan.  Ya…ya…ya… Dengan demikian, duit yang harusnya dipakai buat beli mobil, kan masih bisa diputer buat yang lain tho… Dan bukan tidak mungkin kalau duit itu bisa menjadi duit yang lebih banyak, sehingga bisa beli mobil yang jauh lebih bagus lagi. Iya kan…!?!?!
Ya… semoga celotehan saya ini bermanfaat.